Sabtu, 09 Agustus 2014

OPEC dan Alasan Keluarnya Indonesia


Bendera OPEC

Markas OPEC di Wina, Austria

OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries; bahasa Indonesia: Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi) adalah organisasi yang bertujuan menegosiasikan masalah-masalah mengenai produksi, harga dan hak konsesi minyak bumi dengan perusahaan-perusahaan minyak.

OPEC didirikan pada 14 September 1960 di Bagdad, Irak. Saat itu anggotanya hanya lima negara. Sejak tahun 1965 markasnya bertempat di Wina, Austria.

Negara-negara Anggota OPEC:
  • Benua Afrika:
  1. Aljazair (1969)
  2. Angola (1 Januari 2007)
  3. Libya (Desember 1962)
  4. Nigeria (Juli 1971)
  • Benua Asia:
  1. Arab Saudi (negara pendiri, September 1960)
  2. Iran (negara pendiri, September 1969)
  3. Irak (negara pendiri, September 1960)
  4. Kuwait (negara pendiri, September 1960)
  5. Qatar (Desember 1961)
  6. Uni Emirat Arab (November 1967)
  • Benua Amerika Selatan:
  1. Ekuador (1973–1993, kembali menjadi anggota sejak tahun 2007)
  2. Venezuela (negara pendiri, September 1960)
  • Anggota yang keluar:
  1. Gabon (keanggotaan penuh dari 1975–1995)
  2. Indonesia (anggota dari Desember 1962–Mei 2008)
  • Pada Mei 2008, Indonesia mengumumkan bahwa mereka telah mengajukan surat untuk keluar dari OPEC pada akhir 2008 mengingat Indonesia kini telah menjadi importir minyak (sejak 2003) atau net importer dan tidak mampu memenuhi kuota produksi yang telah ditetapkan.
  • Kemungkinan jadi anggota:
  1. Suriah, Sudan, dan Bolivia (ketiga negara ini sudah diundang oleh OPEC untuk bergabung)
  2. Brasil (ingin bergabung setelah ditemukan cadangan minyak yang besar di Atlantik)

Alasan Indonesia keluar:
Indonesia akhirnya secara resmi menyatakan mundur dari keanggotaan organisasi negara-negara pengekspor minyak (Organization Petroleum Exporting Countries/OPEC). Hal itu disampaikan dalam Konferensi OPEC ke-149, yang berlangsung tanggal 9-10 September 2008, di Wina, Austria.’’OPEC memahami situasi Indonesia sebagai net oil importer,’’ kata Gubernur OPEC untuk Indonesia Maizar Rahman.
Menurut dia, konferensi dan Indonesia sepakat dengan status suspensi keanggotaan. Mereka juga mengharapkan Indonesia dapat kembali menjadi anggota OPEC sepenuhnya. ’’Bila situasinya sudah memungkinkan,’’ terangnya.

Dengan demikian, Indonesia mengakhiri keanggotaannya selama 47 tahun di OPEC. Indonesia tercatat bergabung dengan OPEC pada tahun 1961. Indonesia juga merupakan satu-satunya wakil Asia di OPEC.
Keputusan untuk keluar dari OPEC yang didengungkan pemerintah sejak Mei lalu, dipicu oleh laju produksi minyak mentah yang terus turun, dari 1,6 juta barel per hari (bph) pada 1996 menjadi hanya sekitar 970 ribu bph tahun ini.Tahun depan, produksi diperkirakan kembali turun ke angka 960 ribu bph.

Di sisi lain, konsumsi BBM di Indonesia terus meningkat yang hingga kini mencapai 1,3 juta bph. Kondisi itu membuat Indonesia menyandang predikat sebagai net oil importer.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro mengatakan, Indonesia akan bergabung lagi dengan OPEC jika tingkat produksi minyak kembali meningkat. ’’Jika produksi kita sudah kembali pada level yang memberi kita status net oil exporter, maka saya pikir kita akan segera kembali ke OPEC,’’ ujarnya.

Menanggapi kemungkinan Indonesia kembali menjadi anggota OPEC, pengamat perminyakan menilai hal tersebut membutuhkan waktu panjang. Sebab, lanjut dia, upaya menggenjot produksi minyak tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Upaya menaikkan produksi tidak bisa dilakukan dengan hanya mengandalkan lapangan-lapangan minyak yang sudah ada saat ini (eksisting) yang terus mengalami laju penurunan alamiha atau natural declining rate 13 persen tiap tahun. ’’Tetapi harus dengan penemuan-penemuan cadangan baru,’’.

Selain berpamitan, Indonesia juga memanfaatkan momen sidang OPEC ke-149 untuk menjalin kerjasama bilateral dengan beberapa negara. Menurut Maizar Rahman, di luar agenda sidang, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro melakukan pertemuan bilateral dengan menteri-menteri dari Aljazair, Irak, dan Equador. ’’Pertemuan dilakukan untuk kerja sama eksplorasi dan produksi migas di negara-negara tersebut, maupun impor minyak mentah dan elpiji dari Aljazair,’’.

Meski hanya memasok sekitar 37 persen dari total kebutuhan minyak dunia, namun OPEC tetap memiliki peran signifikan dalam mempengaruhi fluktuasi harga minyak dunia.

Sumber:
wikipedia.org
rdar.wordpress.com



Tidak ada komentar:

Posting Komentar