Rabu, 20 Agustus 2014

Pekan Olahraga Nasional (PON) Pertama

Suasana Pembukaan PON I
di Stadion Sriwedari,
 Solo/Surakarta, 9 September 1948.
(Sumber: 
http://inioke.com/)
Disingkat PON, pertama kali diadakan di Solo (Surakarta: nama lain Solo pemberian Paku Buwono II), Jawa Tengah, pada tanggal 9-12 September 1948. PON pertama tersebut diadakan tidak hanya sebagai ajang pertandingan olahraga, tetapi juga mengandung tujuan politik, yaitu untuk menunjukkan keberadaan dan eksistensi negara Republik Indonesia di mata dunia. 

Ternyata peristiwa itu mampu menarik perhatian negara-negara di dunia untuk meliput pertandingan itu. Padahal saat itu tekanan pihak NICA terasa pada hampir semua bidang kehidupan. Dalam bidang olahraga pun, ketika organisasi olahraga PORI (Perhimpunan Olahraga Republik Indonesia) dan KORI (Komite Olimpiade Republik Indonesia) mengadakan beberapa kongres, pelaksanaannya berjalan tersendat- sendat karena aksi Belanda dan NICA yang brutal.

Setelah dibentuk pada tahun 1946, Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI) yang dibantu oleh Komite Olimpiade Republik Indonesia (KORI) - keduanya telah dilebur dan saat ini menjadi KONI - mempersiapkan para atlet Indonesia untuk mengikuti Olimpiade Musim Panas XIV di London pada tahun 1948. Usaha Indonesia untuk mengikuti olimpiade pada saat itu menemui banyak kesulitan. PORI sebagai badan olahraga resmi di Indonesia pada saat itu belum diakui dan menjadi anggota Internasional Olympic Committee (IOC), sehingga para atlet yang akan dikirim tidak dapat diterima dan berpartisipasi dalam peristiwa olahraga sedunia tersebut. 

Pengakuan dunia atas kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia yang belum diperoleh pada waktu itu menjadi penghalang besar dalam usaha menuju London. Paspor Indonesia pada saat itu tidak diakui oleh PemerintahInggris, sedangkan kenyataan bahwa atlet-atlet Indonesia hanya bisa berpartisipasi di London dengan memakai paspor Belanda tidak dapat diterima. Alasannya karena delegasi Indonesia hanya mau hadir di London dengan membawa nama Indonesia. Alasan yang disebut terakhir ini menyebabkan rencana kepergian beberapa anggota pengurus besar PORI ke London menjadi batal dan menjadi topik pembahasan pada konferensi darurat PORI pada tanggal 1 Mei 1948 di Solo.

Rencana penyelenggaraan PON pertama kali tercetus dan diputuskan di dalam konferensi PORI di Surakarta tanggal 2 dan 3 Mei 1948, antara lain dihadiri oleh utusan dari PORI daerah serta wakil-wakil dari Kementerian Pembangunan dan Pemuda serta Kementerian Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan Republik Indonesia. Salah satu keputusan konferensi PORI itu adalah akan menyelenggarakan Kongres Olahraga II tanggal 9 -11 September 1948 sekaligus menyelenggarakan PON 1.

PON I akhirnya berhasil diselenggarakan di Stadion Sriwedari, Solo, pada tanggal 9-12 September 1948. Acara PON tersebut dibuka resmi oleh Presiden Sukarno. PON I itu diramaikan oleh 13 kelompok olahraga yang semuanya berasal dari P. Jawa, yaitu dari Bandung/Priangan, Jakarta, Yogyakarta, Solo, Magelang, Semarang, Kediri, Madiun, pati, Kedu, surabaya, Malang dan Banyumas.

Kemudian PON II diselenggarakan di Jakarta diikuti sekitar 2.500 atlet dari seluruh Indonesia (1951). Dibuka oleh Wapres M.Hatta dengan pesan " ... dari Stadion Nasional ke pembangunan Indonesia". Stadion olah raga di lapangan Ikada yang terletak di Medan Merdeka Jakarta, khusus dibuat untuk menyambut PON II dan dibangun dalam 93 hari. Pada Peristiwa Pemberontakan PKI tahun 1965, PON VI gagal dilaksanakan, karena situasi dan kondisinya tidak mendukung.

Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar